Karena Beda Pilihan Cakades, di Tegal Wangi Kecamatan Menes Salah Satu Makam Dipindahkan

Karena Beda Pilihan Cakades, di Tegal Wangi Kecamatan Menes Salah Satu Makam Dipindahkan

Reporter : Ading Sumardi I Editor : Aji Rosyad

Pandeglang – Perhelatan Calon Kepala Desa di Tegal Wangi, Kecamatan Menes dinilai semakin panas diantara para pendukung Calon. Hal itu diketahui setelah masing-masing bakal calon mendapatkan nomor urut diundian dengan beragam warna dukungan. Pasca itu, sebagian para pendukung merayakan calon yang akan dicoblosnya karena dianggap telah lulus seleksi dan bisa mengikuti perhelatan Pilkades pada 18 Juli 2021 mendatang.

Rupanya, acara tersebut mendapat sorotan dari pendukung lain, karena berbeda pilihan salah satu warga masa lalunya diungkit-ungkit, bahkan makam orang tuanya menjadi omongan. Karna itu, Ahli Waris merasa sakit hati serta merasa  terdzholimi dan akhirnya mereka bersepakat dengan seluruh kelurganya makam itu dipindahkan ke TPU.

” Hari ini pemindahan pemakaman belangsung dari sekira pukul 8.00- 11.00 WIB  dari Blok Kadu Kekep Kampung Koranji RT 02 RW 07 Desa Tegal Wangi ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Makam Desa Alaswangi Kecamatan Menes,” ucap Warga dilokasi pemindahan kuburan. Sabtu (3/7/21).

Menurut salah satu Ahli Waris, Ade Sadeli (36) melalui Sanan, mengungkapkan bahwa pemindahan kuburan atas nama Ujang Rahmat (Alm) ditenggarai adanya Pilkades serantak yang tak lama lagi dihelat. Karena Ade Sadeli, dianggap mangkir dari pilihan yang diharapkan keluarga pemilik tanah kuburan Ujang Rahmat (Alm). Kebaikannya yang selama ini baik jasa diungkit kembali.

Tak hanya itu, Ade Sadeli melalui Sanan juga menyebutkan nama orang yang mengungkit ungkit jasa yang diberikan kepada dirinya (Ade Sadeli*red) diantaranya, Tokoh Masyarakat Ustadz Shihab, Ketua DKM Kasta, dan Tokoh Pemuda Epul.

” Setelah ketahuan bacakan beda Cakades, keluarga kami diungkit, bahkan orang yang meninggal juga di omong, akhirnya kami sepakat pindahkan makam itu ke TPU Tegal Makam Desa Alaswangi,” papar Sanan.

Sementara itu, Istri Almarhum,Junariah (65) mengatakan, kronologis dibongkarnya makam suaminya berawal dari adanya acara makan-makan atau babacakan yang diadakan dikampung Parongpong desa tegalwangi kecamatan menes, oleh salah satu calon kepala desa (cakades) Aat Supriatna.

“Jadi sekitar satu minggu lalu, kami dan warga lainnya yang pro aat supriatna termasuk menantu saya yang bernama Ade Sadeli (36) diajak babacakan dikampung  parongpong sama calon, entah apa masalahnya ada orang yang dituakan dikampung kami datang dan berbicara dengan anak kami tersebut,” tuturnya

Kata Junariah, dalam pembicaraannya, orang yang diduga sebagai tokoh masyarakat bernama ustadz Shihab tersebut, mengungkit segala yang pernah diberi olehnya kepada keluarga almarhum, termasuk lahan makam yang dipakai.

“Tidak hanya itu dia juga menghina kami sebagai orang miskin, mendengar itu kami sebagai pihak keluarga merasa sakit hati dan tersinggung atas perkataan sang tokoh masyarakat tersebut,” terangnya.

Setelah rembukan dan musyawarah bersama pihak keluarga lanjut Junariah, akhirnya pihak keluarga dan warga sepakat untuk memindahkan makam almarhum ke TPU.

“Maunya saya dan keluarga, orang yang sudah meninggal jangan dibawa-bawa dan jangan diungkit-ungkit, karena yang sudah mati gak tau urusan, dan Saya hanya berharap cukuplah ini terjadi pada keluarga kami, jangan terulang kepada yang lain,” ungkapnya sambil mengusap air mata.

Sementara itu, anak pertama Almarhum, Jupri (36) menuturkan, persoalan pribadi seharusnya tidak dikaitkan dengan persoalan dukung mendukung calon kades, karena itu hal yang berbeda. “Saya hanya menyayangkan sikap mereka yang seperti itu, padahal mereka berpendidikan,” tukasnya.

Berdasarkan pantauan awak media meski sudah lama dimakamkan namun kondisi mayit masih tampak bagus, sementara itu, ketika proses pembongkaran makam tidak terlihat satupun dari pihak puskesmas ataupun muspika menes yang hadir.